Belakangan ini sering sekali kita mendengarkan berita di media massa tentang kejadian bencana alam di tanah air. Jika dirata-rata mungkin seminggu sekali ada laporan bencana alam. Namun kita tidak sendirian. Kejadian juga hampir merata di seluruh dunia. Bencana alam yang paling sering terdengar beritanya adalah banjir dan gempa. Tahukah anda penyebab utama berbagai bencana alam yang ada di dunia? Dan apa solusinya?
Bencana Alam
Menurut Wikipedia bencana alam (natural disaster) adalah akibat kejadian alam yang dapat mempengaruhi lingkungan dan menimbulkan kerusakan/kehilangan terhadap lingkungan, kerugian finansial dan kematian pada manusia. Bencana alam tersebut dapat berupa gempa bumi, angin putting beliung, banjir, tsunami, tanah longsor, letusan gunung berapi dan sebagainya.
Terdapat beberapa teori penyebab bencana alam antara lain erosi tanah, aktivitas seismik, perubahan tekanan udara, dan arus laut. Jika merunut kebelakang lagi maka satu-satunya penyebab utama bencana alam adalah perubahan iklim.
Perubahan Iklim
Unit Kerja PBB dalam perubahan iklim (United Nations Framework Convention on Climate Change/UNFCCC) mendefinisikan perubahan iklim sebagai perubahan iklim yang disebabkan secara langsung atau tidak langsung dengan aktivitas manusia yang mengubah komposisi atmosfer global dan yang merupakan tambahan terhadap variabilitas iklim alami yang diamati selama periode waktu yang dapat dibandingkan.
UNFCCC melaporkan para ilmuwan telah mengamati perubahan iklim yang disebabkan setidaknya 420 proses fisik dan biologis spesies atau komunitas. Perubahan iklim menyebabkan peningkatan terjadinya kekeringan luar biasa, gelombang panas, badai tropis, melelehnya salju di banyak belahan bumi yang berusia ratusan/ribuan tahun, perubahan ekosistem yang merangsang munculnya berbagai macam penyakit lama dan baru baru serta bencana buruk lainnya dapat terjadi dengan segera. Jadi sudah terbukti bahwa suhu bumi meningkat dalam 100 tahun terakhir setidaknya 0,60C jika dibandingkan dengan tahun 1900 (rerata suhu planet bumi 300C). Peningkatan suhu ini diakibatkan oleh karena efek dari gas-gas rumah kaca seperti CO2, metana dan gas-gas lainya.
Peternakan
Industri peternakan adalah penghasil metana nomor satu, yang merupakan gas rumah kaca yang paling kuat. PBB melaporkan bahwa produksi daging memancarkan 37 persen gas metana di dunia. Laporan dari Food and Agriculture Organization (FAO) pada tahun melaporkan sektor peternakan menyumbang gas rumah kaca sebesar 18%, sedangkan gabungan gas buang seluruh trasportasi di dunia menyumbang gas rumah kaca sebesar 13%. Sehingga kini kita bisa melihat betapa tidak efektifnya langkah kita dalam menghentikan pemanasan global dengan penekanan pada sektor transportasi. Laporan terbaru oleh Majalah WorldWacth tahun 2009 memberikan hasil lebih ekstrim lagi. Laporan tersebut menyampaikan bahwa peternakan menyumbang gas rumah kaca lebih dari 51%. Peternakan tidak saja menghasilkan gas tersebut namun juga menghabiskan persediaan air bersih yang besar, polusi air, kerusakan pada tanah, eutropikasi, kerusakan terumbu karang dan masih banyak lagi.
Peternakan yang dimaksud bukan hanya peternakan hewan besar seperti sapi, domba, tapi juga unggas, ikan, termasuk juga peternak penghasil susu sapi/kambing dan sebagainya.
Solusi
Salah satu solusi utama terhadap permasalahan yang kita hadapi adalah dengan menghentikan peternakan tersebut. Penghentian peternakan dan diet vegetarian secara nyata dapat mengurangi dampak kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini. Penghentian peternakan diikuti dengan pengembangan pertanian organik. Bahkan laporan dari Postdam Institute menunjukkan bahwa mengurangi konsumsi daging dan susu dapat menghentikan pemanasan global hingga 84 persen. Tentu saja ini berita yang sangat menggembirakan. Setidaknya kita sudah tahu solusi utama bagi masalah yang sedang bumi dan penghuninya.
Menurut Maha Guru Ching Hai, seorang praktisi rohani dan juga pemerhati lingkungan hidup, dalam siarannya melalui http://suprememastertv.com/?langdir=1 mengatakan “Diet vegetarian dapat menyelamatkan dunia melalui konsekuensi menaikkan energi karma yang baik dan murah hati dari gaya hidup yang baik penuh kasih sayang. Dan juga akan mengurangi atau menghilangkan perang sama sekali. Solusi terbaik untuk situasi yang mendesak kita sekarang adalah diet vegetarian, dan harus secara terbuka didukung dan bahkan dibuat menjadi hukum jika mungkin, untuk melindungi manusia, binatang dan planet kita, satu-satunya yang kita miliki.”
Menurut Prof Aris Ananta, http://mletiko.com/, salah satu pakar ekonomi sekaligus seorang peneliti senior di the Institute of South East Asian Studies (ISEAS) , seyogyanya pemerintah saat ini lebih mengedepankan prinsip ekonomi hijau. Prinsip ekonomi yang mengedepankan perekonomian yang ramah lingkungan dengan memperhatikan keuntungan jangka panjang.
Bali dapat menjadi contoh awal (pilot project) untuk menjadikan Bali sebagai daerah wisata hijau. Bali saat ini dengan gubernurnya (bapak Mangku Pastika) mencanangkan telah melangkah sangat berani dengan program Bali Green Province. Bali dapat menjadi penggerak sektor ekonomi hijau. Bali yang terkenal dengan pariwisatanya dapat bertransformasi menjadi Bali dengan pariwisata yang menawarkan paket wisata lingkungan hidup, wisata kuliner dunia vegetarian ataupun paket wisata lainnya. Semua ini baru dapat dilakukan jika semua pengambil kebijakan, pelaku bisnis dan rakyat dapat bekerjasama. Gerakan ini layak didukung tidak saja oleh masyarakat Bali tapi juga masyarakat Indonesia demi penyelamatan PLANET BUMI YANG INDAH INI.
Jadi mengapa tidak mulai dengan Be veg, Go Green, 2 Save the Planet.
Arie “Visudananda” Purwana (dokter anak, pemerhati lingkungan hidup, praktisi kemanusiaan)